1. Mesnurut saya keduanya seharusnya sejalan. Karena
tanpa ada media pembelajaran TIK, maka dosen/guru tidak dapat belajar atau
meningkatkan kemampuan menggunakan media pembelajaran TIK. Namun, tiap
dosen/guru seharusnya memiliki kemampuan dasar pemahaman internet. Dari
internet terdapat segala informasi. Jadi walaupun media pembelajaran belum
memadai, jika dosen/guru sudah mempelajarinya di internet, maka ketika media
tersebut ada, tenaga pengajar tidak
“terkejut” lagi dengan media-media tersebut.
2.
Faktor pendukung PJJ di Indonesia:
a.
Kondisi geografis di Indonesia sehingga jarak
menjadi penghambat tatap muka antara guru dan murid. Maka PJJ bisa dijadikan
solusi untuk hal tersebut.
b.
Banyaknya orang-orang yang sulit menemukan waktu
untuk terikat dalam kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.
c.
Kurangnya ketersediaan buku teks, daya tampung,
dan tenaga baik pengajar maupun keryawan untuk pengadaan kelas.
d.
Berkembangnya teknologi informasi komunikasi di
Indonesia.
Faktor yang menjadi kendala PJJ di
Indonesia:
a.
PJJ masih belum masuk di benak masyarakat pada
umumnya. Bagi masyarakat Indonesia, PJJ
masih terlihat “aneh” dan tidak sesuai dengan mindset mereka. Banyak yang masih menganggap kalau tidak bertemu di
kelas, berarti belum kuliah.
b.
Walaupun PJJ adalah solusi untuk masyarakat yang
memiliki kesulitan dalam menempuh jarak menuju tempat pembelajaran, tetapi hal
ini juga menjadi kendala bagi PJJ. Kondisi geografis Indonesia, terutama
daerah-daerah terpelosok, sulit untuk dijangkau, baik internet maupun pos. PJJ
memang bisa dilakukan, tapi kesulitan tersebut sangat menyita waktu.
c.
Belum meratanya pengadaan TIK dan peningkatan
kemampuan penggunaan media TIK di Indonesia, terutama di daerah terpelosok.
d.
Interaksi melalui media-media PJJ tidak semudah
interaksi langsung, sehingga hal tersebut menjadi kesulitan dalam menyerap
pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar